Google Translator

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday753
mod_vvisit_counterYesterday2149
mod_vvisit_counterThis week753
mod_vvisit_counterThis month38687
mod_vvisit_counterAll1935130

DigitalClock

Pengusaha Sawit Khawatir Pajak Ekspor CPO PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 05 December 2012

tribunnews.com, 5 Desember 2012

 

TRIBUNNEWS.COM, MEDAN -- Pengusaha sawit Sumatera Utara mendesak pemerintah segera menerbitkan regulasi untuk menandingi kebijakan pajak ekspor (PE) crude palm oil (CPO) yang dikeluarkan Malaysia. Meski sempat diwacanakan untuk bernegosiasi soal regulasi untuk mendongkrak harga CPO di pasar dunia, ternyata Malaysia lebih dulu menelikung dengan melakukan revisi PE.

Seperti diketahui, mulai Januari 2013, Malaysia akan menerapkan PE progresif sebesar 4,5 persen saat harga CPO mencapai 2.250 Malaysia Ringgit (MYR) hingga MYR 2.400 per metrik ton (MT), sampai maksimal 8,8 persen untuk harga CPO di kisaran MYR3.450 sampai MYR3.600 per-MT. Padahal selama ini Malaysia memberlakukan bea keluar (BK) dan pajak pengiriman ekspor sebesar 23 persen flat alias tetap untuk harga berapapun.
"Ini bukan masalah pemerintah bisa atau tidak bisa menandingi kebijakan tersebut. Tapi ini soal mau atau tidak mau. Mengeluarkan kebijakan sih mudah. Tapi mau nggak?," ujar Bendahara Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumut, Laksmana Adhiaksa kepada Tribun, Selasa (4/12) di Medan.  

Padahal, katanya, harusnya pemerintah lebih proaktif mengantisipasi penerapan pemangkasan PE CPO Malaysia pada Januari 2013 sekaligus mengimbangi harga CPO yang jatuh dalam beberapa bulan terakhir.

Ia mengkritisi sikap pemerintah yang justru tidak sigap dalam melihat kondisi yang menghambat pergerakan komoditas penghasil devisa ini di pasar dunia. "Ketika harga naik, BK juga dinaikkan. Tapi ketika harga turun dan permintaan juga merosot, justru pemerintah tidak sigap. Ini malah pemerintah Malaysia yang menyerobot duluan. Kalau begini, percuma saja kita jadi salah satu produsen CPO terbesar di dunia," ujarnya.

Apalagi, tambahnya, kebijakan yang diterapkan pemerintah Malaysia itu potensial menggerus pasar CPO Indonesia yang sensitif terhadap perubahan harga terutama pasar India yang juga banyak mengimpor dari Sumut.

Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, tercatat nilai ekspor minyak sawit Sumatra Utara hingga Oktober 2012 mencapai 3,564 miliar  dolar AS atau turun 5,93 persen   dibanding 2011 yang tercatat 3,789 miliar dolar AS. Penurunan ekspor ini bahkan terjadi di tengah ajakan Malaysia kepada Indonesia untuk meremajakan sawit guna mendongkrak harga jual CPO.
 
< Prev   Next >