Google Translator

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday1409
mod_vvisit_counterYesterday1548
mod_vvisit_counterThis week2957
mod_vvisit_counterThis month43497
mod_vvisit_counterAll1828039

DigitalClock

PT Bhakti Investama Bantah Dibantu Pihak Lain dalam Urus Pajak PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Tuesday, 11 December 2012

mediaindonesia.com, 11 Desember 2012

 

JAKARTA--MICOM: Direktur PT Bhakti Investama (BI) Darma Putrawati mengatakan bahwa pengurusan pajak perusahaan tidak pernah dibantu oleh pihak lain, karena langsung ditangani oleh tim internal PT BI ke Kantor Pelayanan Pajak.

Hal itu dijelaskan setelah menjawab pertanyaan Ketua Majelis Hakim Dharmawati Ningsih di Pengadilan Tipikor, Jakarta. "Dalam mengurus pajak, tim kami langsung ke KPP dan diskusi. Itu bagian akunting dan pajak. Kami tidak mengetahui atau memahami apa yang terjadi terhadap Tommy Hindratno, karena tim kami yang mengurus pajak sendiri," katanya saat dihadirkan sebagai saksi, Senin  (10/12).

Lanjutnya, tidak ada hubungannya antara Komisaris Independen PT Bhakti Investama Antonius Tonbeng dengan kasus itu karena dia tidak pernah mengurus pajak, lagian juga pajak PT BI sederhana karena berbentuk holding company.
Lalu Hakim Dharmawati kembali bertanya, apakah Darma mengetahui pencairan dana Rp340 juta? "Tahu yang mulia. Pertama untuk public ekspose. Satu lagi untuk membayar pajak bulanan. Itu orang keuangan yang urus. Untuk pajak dipakai semua, sedangkan untuk ekspos publik dan hadiah hanya digunakan Rp40 juta, sisanya kembali ke rekening," ujarnya.

Dalam dakwaan diterangkan, Kasus itu bermula ketika KPK menangkap tangan James Gunaryo Budiraharjo memberikan uang sebesar Rp280 juta kepada Hendi Anuranto yang merupakan ayah kandung Tommy di Restoran Sederhana Tebet. Tommy yang berada diruangan sebelah rumah makan itu takut menerima uang sehingga menyuruh ayahnya. Lalu KPK melakukan pengembangan dan terungkap bahwa Terdakwa melakukan pertemuan dengan James dan Antonius di Kantin MNC Tower Kebun Sirih, untuk mengurus penyelesaian klaim SPT lebih pajak. Di pertemuan itu Antonius menyampaikan kepada terdakwa " kalau berhasil, ada lah" dan dijawab terdakwa "saya lihat dulu".

Pengajuan klaim SPTLB PT Bhakti Inversama terdiri dari Pajak Penghasilan Badan tahun 2010 sebesar Rp517 juta dan Ppn dari tahun 2003 hingga 2010 Rp3,2 miliar.

Menindaklanjuti pertemuan itu, terdakwa bertemu dengan Fery yang satu ruangan dengan Agus Totong selaku supervisor dan Hani Masrokim selaku ketua tim pemeriksa pajak PT Bhakti Investama. Dalam komunikasinya terdakwa meminta informasi melalui Fery terkait tim pemeriksa dan perkembangan pemeriksaan.

Lalu pertemuan, James dan Antonius meminta terdakwa menyampaikan biaya bunga obligasi, biaya entertainment, biaya apartemen dan biaya makan minum tidak banyak dikoreksi dan supaya dibebankan sebagai biaya pengeluaran SPT LB. Lalu pada 24 April 2012, diterbitkan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar yaitu SPT Pph Rp517 juta dan SPT Ppn Rp2,9 miliar. Setelah dana itu diterima PT Bhakti Investama, Antonius mengambil Rp340 juta diserahkan kepada James. James mengambil Rp60 juta dan Rp280 juta diserahkan kepada terdakwa. Lalu James pada 6 Juni 2012 bertemu dengan Tommy yang akhirnya ditangkap tangan KPK melakukan penyuapan.

Atas tindakan terdakwa Tommy diancam pidana penjara seumur hidup atau pidana paling singkat empat tahun dan paling lama 20 tahun penjara, dan denda paling sedikit Rp200 juta dan paling banyak Rp1 miliar. Penuntut Umum KPK mendakwa Tommy dengan Pasal 12 huruf b tentang gratifikasi atau Pasal 5 ayat (2) atau Pasal 11 UU Tipikor.
 
< Prev   Next >