Google Translator

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday175
mod_vvisit_counterYesterday1548
mod_vvisit_counterThis week1723
mod_vvisit_counterThis month42263
mod_vvisit_counterAll1826805

DigitalClock

Tinjau Kembali Rencana Penarikan Pajak 2 Persen Bagi Usaha Menengah PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Thursday, 27 December 2012

pikiran-rakyat.com, 27 Desember 2012

 

BANDUNG, (PRLM).- Sejumlah pengusaha menilai, pemerintah perlu meninjau kembali rencana penarikan pajak sebesar 2 persen bagi usaha menengah yang membuka toko di mall dan memiliki omset antara Rp 300 juta - Rp 4,8 miliar per tahun yang akan diterapkan pada tahun depan.
 
Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Barat Bidang Kemitraan dan UMKM, Iwan Gunawan, mengatakan, pemerintah lebih baik menahan diri untuk menerapkan kebijakan tersebut pada tahun depan. Pasalnya, dia berpandangan, iklim usaha akan berjalan cukup berat dan menyusahkan.
 
"Tahun depan kita juga akan menghadapi kebijakan yang terkait energi, seperti kenaikan tarif listrik 15 persen, hingga upah minimum. Kebijakan-kebijakan itu saja sudah cukup membuat beban produksi meningkat. Oleh sebab itu, kami menolak rencana penarikan pajak tersebut," ujarnya saat dihubungi "PRLM", Rabu (26/12/12).
Dia mengatakan, kalangan usaha akan memiliki biaya operasional yang bertambah dan cenderung terbuang dengan adanya kebijakan pajak tersebut. Baginya, hal itu dapat memperlemah kondisi daya saing sebuah usaha.
 
"Meskipun kebijakan itu berlaku juga bagi perusahaan yang memiliki omset antara Rp 300 juta-Rp 4,3 miliar/tahun, saya pikir akan sama saja. Cenderung memperlemah kondisi persaingan usaha yang bersangkutan," tuturnya.
 
Dia menambahkan, pemerintah hendaknya lebih memperhatikan sisi kelancaran distribusi terlebih dahulu, ketimbang memberlakukan penetapan pajak sebesar 2 persen tersebut. "Selama ini distribusi tidak lancar karena berbagai kendala. Itu yang menambah beban, sehingga membuat produk menjadi mahal. Seharusnya, itu dibenahi terlebih dahulu sebelum yang lain-lainnya," tuturnya.
 
< Prev   Next >