Google Translator

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday1390
mod_vvisit_counterYesterday2286
mod_vvisit_counterThis week16770
mod_vvisit_counterThis month37175
mod_vvisit_counterAll1933618

DigitalClock

Setoran Pajak Pertambangan Merosot 36% Dari Tahun Lalu PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Friday, 28 December 2012

Harian Kontan, 28 Desember 2012

 

JAKARTA. Penerimaan pajak tahun ini harus jeblok. Empasan krisis global yang berdampak pada penurunan kinerja perusahaan pertambangan mengakibatkan setoran pajak dari sektor ini juga menurun drastis.

Data Direktorat Jenderal Pajak menyebutkan, per 15 Desember 2012 realisasi setoran Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) sektor pertambangan dan penggalian Rp 3,67 triliun. Setoran tersebut berbeda cukup jauh dengan periode yang sama pada tahun 2011 yang mencapai Rp 5,8 triliun. Artinya, terjadi penurunan penerimaan setoran pajak dari sektor ini sekitar 36,7%.

Sementara itu, untuk pajak penghasilan (PPh) migas dari sektor pertambangan dan penggalian per 15 Desember 2012 realisasinya sebesar Rp 53,31 triliun. Angka ini turun 15,47% ketimbang periode yang sama tahun 2011 yang sebesar Rp 63,07 triliun.
Direktur Jenderal Pajak Fuad Rachmany mengakui perlambatan ekonomi global memukul kinerja sektor pertambangan, terutama pada semester II tahun ini. "Bukan hanya tambang batubara, harga komoditas lainnya seperti emas, tembaga, dan nikel juga turun," ujarnya, kemarin.

Fuad menjelaskan, kinerja ekspor yang melambat membuat kinerja perusahaan yang berbasis ekspor menurun. Sehingga, laba usaha yang dibukukan juga anjlok. Dampaknya juga pun langsung ke penerimaan pajak dari sektor-sektor yang berbasis ekspor.

Walau sebenarnya kontribusi penerimaan pajak sektor pertambangan memang tidak sebesar pajak di sektor pengolahan dan perdagangan. Namun, menurut Fuad, penurunan setoran pajak di sektor pertambangan juga mengurangi pendapatan pajak secara umum di tahun ini.

Menteri Keuangan Agus Martowardojo menambahkan, koreksi harga komoditas global memang mempengaruhi kinerja sektor pertambangan. "Selain itu dari sisi produksi juga terjadi koreksi, sehingga pajaknya turun," katanya. Tidak mengherankan bila penerimaan pajak dari sektor pertambangan jeblok.

Tahun depan, Ditjen Pajak berharap ekspor akan lebih baik daripada tahun ini, meski diperkirakan belum bisa pulih seperti semula. Oleh sebab itu, Fuad mengatakan, Ditjen Pajak akan fokus untuk melakukan ekstensifikasi basis pajak. Rencananya, Ditjen Pajak akan memperkuat basis data pajak terutama dari kalangan swasta.

Tahun depan, pemerintah akan menerapkan Pasal 35A Undang-Undang No 16 Tahun 2009 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. Pasal ini menyatakan, seluruh lembaga swasta dan pemerintah wajib menyerahkan data perpajakan. Alhasil, pemerintah bisa memungut pajak lebih besar lagi.
 
< Prev   Next >