Google Translator

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday228
mod_vvisit_counterYesterday1403
mod_vvisit_counterThis week3216
mod_vvisit_counterThis month41150
mod_vvisit_counterAll1937593

DigitalClock

Jika Asing Diiznkan Masuk, Turunkan Pajak untuk E-Commerce Lokal PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Monday, 01 February 2016
JAKARTA - Indonesia sepertinya bakal kebanjiran masuknya perusahaan e-commerce asing. Pasalnya pemerintah telah mengeluarkan wacana untuk membuka pintu seluas-luasnya untuk perusahaan e-commerce asing masuk ke Indonesia.

CEO Blibli Kusumo Martanto mengaku tidak masalah jika harus bersaing dengan perusahaan asing. Namun dirinya meminta pemerintah untuk memberikan insentif bagi perusahaan e-commerce lokal dalam hal pengurangan beban pajak.

"Turunnya beban pajak itu akan membantu. Karena kan kita juga sebagai pemain lokal yang dari awal sebagai wajib pajak," katanya kepada Okezone di Jakarta.

Selain itu menurut Kusumo, industri e-commerce lokal yang masih belia juga membutuhkan dukungan dalam hal research and development (R&D) untuk mengembangkan bisnisnya. Pasalnya untuk mendirikan R&D membutuhkan dana yang cukup besar.
"R&D untuk research untuk pengembangan itu kan mahal, belum ada insentif di situ. Dengan begitu mungkin bisa menstimulasi yang lokal untuk invest di research, kalau asing yang datang itu kan semua sudah jadi. Bentuknya apa, anything itu tergantung dari pemerintah," imbuhnya.

Menurut Kusumo insentif tersebut bukan hanya sebuah bentuk dukungan bagi perusahaan e-commerce lokal, tapi juga sebagai apresiasi bagi pemain lokal yang telah membangun industri tersebut dari awal di Indonesia. "Kita bantuin buka pasarnya dari nol loh. Setelah dibuka pasar baru yang lain masuk untuk menikmati benefitnya.

Seperti diketahui, pemerintah berencana akan membuka peluang 100 persen bagi perusahaan e-commerce asing untuk masuk ke Indonesia. Mereka disyaratkan untuk mendirikan kantor perwakilan di Indonesia agar bisa dikenakan pajak layaknya perusahaan e-commerce lokal.

Namun pemerintah mensyaratkan perusahaan e-commerce yang masuk harus mempunyai market place senilai Rp20 miliar. Hingga kini pemerintah masih menggodok kebijakan tersebut.

 
< Prev   Next >