Google Translator

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday750
mod_vvisit_counterYesterday1403
mod_vvisit_counterThis week3738
mod_vvisit_counterThis month41672
mod_vvisit_counterAll1938115

DigitalClock

Restitusi Pajak 2015 Capai Rp 95 Triliun PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Tuesday, 12 January 2016
Harian Kontan 12 Jan 2016
 
PEMERINTAH telah mengembalikan kelebihan bayar pajak atau restitusi pajak tahun 2015 sebesar Rp 95 triliun. Angka tersebut naik dibandingkan restitusi tahun 2014 sebesar Rp  84,2  triliun.  "Itu  kombinasi Pajak Penghasilan (PPh) dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN)," kata Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, Senin (11/1).
 
Hampir separuh restitusi itu berasal dari pengembalian PPN, sehingga berakibat rendahnya penerimaan PPN akhir tahun 2015.
 
Data Kemkeu menunjukkan, hingga 31 Desember  2015,  realisasi PPN mencapai Rp 423,53 triliun. Angka tersebut hanya 73,47% dari target Rp 576,5 triliun. Selain PPN impor yang tergerus akibat melambatnya pertumbuhan ekonomi, rendahnya PPN juga dinilai karena masih banyaknya PPN fiktif. Padahal sepanjang 2015 Ditjen Pajak terbilang cukup gencar melakukan penindakan atas kasus-kasus pidana pajak fiktif.
Pengamat Perpajakan Universitas Indonesia Darussalam bilang, restitusi tidak selalu dikonotasikan perbuatan  negatif seperti faktur pajak  fiktif. Sebab  restitusi adalah konsekuensi  logis sistem perpajakan saat ini. Pelambatan ekonomi membuat cicilan PPh yang dibayarkan wajib pajak badan lebih besar dibandingkan pajak terutang.  "Begitu juga PPN, setiap transaksi jual beli dipungut dulu oleh penjual. Pembeli berhak untuk mengkreditkan," kata Darussalam.
 
< Prev   Next >