Google Translator

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday183
mod_vvisit_counterYesterday1548
mod_vvisit_counterThis week1731
mod_vvisit_counterThis month42271
mod_vvisit_counterAll1826813

DigitalClock

Direktorat Pajak Ultimatum Sukanto Tanoto Bisa Dilakukan Pemanggilan Paksa PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Friday, 15 February 2008
JAKARTA -- Direktorat Jenderal Pajak mengultimatum Sukanto Tanoto, pemilik kelompok usaha Raja Garuda Mas (RGM), karena mangkir menghadiri pemeriksaan dugaan penggelapan pajak oleh perusahaan miliknya, PT Asian Agri.

Direktur Intelijen dan Penyidikan Pajak Tjiptardjo mengatakan Sukanto telah dua kali mangkir dari panggilan pemeriksaan. Padahal surat-surat panggilan telah disampaikan ke tiga alamat langsung, yaitu ke rumah Sukanto di Jakarta, kantor Asian Agri Group, dan alamat rumahnya di Singapura. "Kami akan mengirim panggilan yang ketiga. Kalau tidak datang, akan kami lakukan pemanggilan paksa," ujarnya di Jakarta kemarin. Aparat pajak akan bekerja sama dengan kepolisian dan aparat imigrasi untuk membawanya.
Jika dengan pemanggilan paksa tidak bisa juga dihadirkan, kata dia, Sukanto terancam menjadi buron. "Akan segera ditetapkan masuk DPO (daftar pencarian orang) kalau panggilan paksa tidak juga mempan," kata Tjiptardjo.

Dia menyarankan Sukanto memenuhi panggilan penyidik pajak tersebut. Sebab, pemanggilan itu merupakan kesempatan untuk mengklarifikasi tuduhan yang dialamatkan kepada Asian Agri, unit usahanya di sektor agrobisnis, yang diduga menggelapkan pajak. "Mumpung pemanggilan ini masih sebagai saksi," katanya.

Asia Agri diduga menggelapkan pajak dengan cara menggelembungkan biaya perusahaan sebesar Rp 1,5 triliun, menggelembungkan kerugian transaksi ekspor sebesar Rp 232 miliar, dan mengecilkan hasil penjualan sebesar Rp 889 miliar. Kerugian sementara pemerintah mencapai Rp 1,3 triliun. Saat ini Ditjen Pajak telah menetapkan 11 tersangka.

Direktur Jenderal Pajak Darmin Nasution menambahkan, kasus Asian Agri akan diteruskan pemeriksaannya sampai tuntas. Berdasarkan temuan sementara, jumlah tersangkanya bisa bertambah lebih dari 11 orang. Menurut dia, jumlah kerugian yang diderita oleh pemerintah juga ada kemungkinan terus melonjak.

Kendati begitu, Darmin mengatakan pihaknya akan berhati-hati dan tidak terburu-buru menetapkan jumlah kerugian negara ataupun tersangka sebelum menemukan bukti-bukti kuat. "Informasi ada, tapi datanya belum lengkap benar. Jadi harus kami lengkapi dulu karena bisa-bisa tidak laku di pengadilan," ujarnya. Dia mematok bahwa aparat penyidik pajak harus bisa merampungkan pemeriksaan pada akhir Maret mendatang.

Juru bicara Asian Agri, Rudy Victor Sinaga, mengaku tak tahu-menahu soal surat panggilan pemeriksaan dari aparat pajak kepada Sukanto Tanoto. "Saya tidak pernah melihat suratnya, jadi saya tidak bisa berkomentar," katanya saat dihubungi Tempo kemarin.

Menurut Rudy, Sukanto lebih sering berada di Singapura ketimbang di Indonesia. "Beliau memang berdomisili di Singapura, tapi memang sering datang ke Indonesia juga kok," kata dia. Meskipun domisilinya di Negeri Singa, kata dia, Sukanto tetap berkewarganegaraan Indonesia.

PADJAR ISWARA, AGUS SUPRIYANTO

 

Koran Tempo, 15 Pebruari 2008 

 
< Prev   Next >