Google Translator

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday1609
mod_vvisit_counterYesterday1401
mod_vvisit_counterThis week3010
mod_vvisit_counterThis month33852
mod_vvisit_counterAll2328584

DigitalClock

Potensi Bea Masuk Rp 2,3 Triliun PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Thursday, 21 February 2008

Sudah Saatnya Harga Komoditas Pangan Turun

Jakarta, Kompas - Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mencatat potensi penerimaan bea masuk yang hilang mencapai Rp 2,3 triliun akibat program stabilisasi harga pangan dan insentif impor mesin industri pada tahun 2008. Sebab, insentif bea masuk itu akan langsung memotong penerimaan negara dari sektor kepabeanan.

Dirjen Bea dan Cukai Anwar Suprijadi mengungkapkan hal tersebut dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XI DPR tentang optimalisasi penerimaan di Jakarta, Rabu (20/2).

Sebelumnya, pemerintah menetapkan program stabilisasi harga komoditas pangan melalui berbagai insentif berupa subsidi atas beras, tepung terigu, dan kedelai. Insentif atas beras diberikan berupa penurunan tarif bea masuk impor dari Rp 550 per kilogram menjadi Rp 450 per kilogram. Insentif ini menyebabkan potensi penerimaan bea masuk yang hilang mencapai Rp 109,38 miliar.

Lalu, pembebasan tarif bea masuk untuk impor tepung terigu dari lima persen menjadi nol persen. Insentif ini akan memangkas penerimaan bea masuk sekitar Rp 77,16 miliar.

Adapun insentif atas kedelai diberikan dengan membebaskan bea masuk impor dari sepuluh persen menjadi nol persen. Ini menyebabkan penerimaan berkurang Rp 496,01 miliar.

Sementara potensi penurunan bea masuk terbesar berasal dari insentif atas impor mesin industri yang diatur dalam perubahan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 135/KMK.05/2000 tentang Keringanan Bea Masuk Atas Impor Mesin, Barang dan Bahan, dalam Rangka Pembangunan/Pengembangan Industri/Industri Jasa. Ini menyebabkan penerimaan turun Rp 1,64 triliun.

Pada tahun 2008, Ditjen Bea dan Cukai dibebani target penerimaan sebesar Rp 63,43 triliun. Penerimaan itu berasal dari bea masuk senilai Rp 14,94 triliun, cukai sebesar Rp 44,43 triliun, dan bea keluar mencapai Rp 4,07 triliun.

Naik jadi Rp 74,41 triliun

Namun, dalam Rancangan APBN Perubahan 2008 disebutkan seluruh target itu dinaikkan menjadi Rp 74,41 triliun. Anggaran itu berasal dari penerimaan bea masuk Rp 17,88 triliun, cukai Rp 45,72 triliun, dan bea keluar senilai Rp 10,81 triliun.

Anwar menegaskan, untuk mencapai target tersebut, pihaknya berencana menambah kantor pelayanan utama (KPU) di enam lokasi. Keenam lokasi itu adalah Malang, Kediri, Kudus, Bandar Udara Soekarno-Hatta, serta Pelabuhan Tanjung Perak dan Belawan.

Program ini menjadi salah satu andalan karena pencapaian penerimaan bulanan di KPU Tanjung Priok dan Batam meningkat. Sebelum dijadikan KPU, Pelabuhan Tanjung Priok menyetor penerimaan bea masuk Rp 607,12 miliar per bulan. Namun setelah menjadi KPU, penerimaannya bertambah menjadi Rp 757,47 miliar atau meningkat 24,76 persen.

Adapun Batam, setoran sebelum menjadi KPU mencapai Rp 4,7 miliar. Kemudian bertambah menjadi Rp 7,8 miliar setelah ditetapkan menjadi KPU.

”Untuk cukai, pemerintah tidak berencana mengubah tarif, baik tarif cukai maupun harga jual ecerannya,” ujar Anwar.

Diharapkan harga turun

Sementara itu, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan, dengan program stabilisasi harga pangan diharapkan harga sejumlah komoditas pangan segera turun.

”Produsen minyak goreng menjanjikan harga minyak goreng mulai turun Maret mendatang. Beras saya rasa cukup stabil. Namun tepung terigu sulit turun karena harga dunia naik,” ujar Mari.

Harga tepung terigu pada awal Januari 2007 sebesar 300 dollar AS/ton, sementara pada awal Januari 2008 mencapai 600 dollar AS/ton. Februari ini harga tepung sudah merangkak naik lagi menjadi 700 dollar AS/ton. (OIN/DAY)

 

Harian Kompas, 21 Pebruari 2008 

 
< Prev   Next >