Google Translator

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday1609
mod_vvisit_counterYesterday1401
mod_vvisit_counterThis week3010
mod_vvisit_counterThis month33852
mod_vvisit_counterAll2328583

DigitalClock

PPN Listrik Bersifat Progresif PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Friday, 22 February 2008

JAKARTA (SINDO) – Pengenaan pajak pertambahan nilai (PPN) kepada pelanggan listrik dengan daya 1.300 volt ampere (VA) diterapkan secara progresif. Artinya, tarif pajak yang dikenakan proporsinya meningkat sesuai besar-kecilnya beban pemakaian listrik oleh pelanggan rumah tangga.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan Anggito Abimanyu menjelaskan, pengenaan PPN bagi pelanggan listrik rumah tangga dari golongan itu harus diartikan sebagai langkah penghematan anggaran subsidi listrik, bukan untuk menggenjot penerimaan dari pajak. ”Jangan semata-mata message-nya untuk penerimaan, tapi untuk disinsentif. Caranya macam-macam,bisa mengenakan disinsentif. Dengan meningkatkan harga ekonomis jika pemakaian di atas rata-rata, maka dikenakan charged atau PPN,” ujar Anggito di Jakarta kemarin.

Dia menjelaskan, pemerintah mempunyai tiga cara penghematan anggaran subsidi listrik agar jumlahnya tetap Rp55 triliun seperti ketetapan dalam RAPBN Perubahan (APBN-P) 2008. Dari ketiga cara tersebut, setidaknya harus dipilih satu agar jumlah subsidi tidak bertambah lagi. ”Itu nanti opsinya akan dipaparkan, mana yang kita pilih baru nanti akan kita lihat.” Anggito menjelaskan, ketiga cara itu adalah pembagian secara gratis 51 juta lampu hemat energi (LHE) untuk menjaga susut jaringan PT Pembangkit Listrik Nasional (PLN) sekitar 11,4%, memastikan rasio penggunaan bahan bakar minyak (BBM) untuk pembangkit maksimal 27%, dan mengenakan PPN yang bersifat progresif.

”Sekali lagi, itu opsi yang angkanya sudah ada,tapi apakah itu akan kita eksekusi tergantungkepadakeadaan( pembahasan RAPBN-P 2008 di DPR). Maka itu, jangan semata-mata ditempatkan dalam konteks penerimaan APBN,”tegas Anggito. Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) J Purwono menjelaskan, pemerintah memproyeksikan penghematan subsidi listrik dengan skenario optimistis pada 2008 akan mencapai Rp18,77 triliun.

Nilai penghematan itu berasal dari program insentif dan disinsentif yang menghasilkan Rp15,5 triliun, dari PPN Rp2,1 triliun, dan program LHE Rp1,17 triliun. Sementara skenario pesimistis, nilai penghematan Rp12,09 triliun,yaitu berasal dari programinsentif dan disinsentif Rp8,82 triliun, PPN Rp2,1 triliun, dan LHE Rp1,17 triliun. Skenario optimistis tercapai bila pelanggan listrik berhemat 20% dibandingkan pemakaian pada 2007, sedangkan skenario pesimistis terjadi jika pelanggan listrik tidak berhemat atau sama dengan pemakaian tahun 2007, sehingga PLN mendapat tambahan pendapatan dari disinsentif tarif sebesar Rp8,82 triliun.

Pemerintah akan memulai program insentif dan disinsentif tarif listrik pada rekening Maret yang ditagihkan April 2008. Sementara itu, menanggapi rencana pengenaan PPN pada pelanggan rumah tangga, ekonom Universitas Airlangga M Ikhsan Modjo menilai rencana itu tidak tepat dari analisis ekonomi. Pasalnya,kelompok itu mayoritas yakni masyarakat berpendapatan menengah ke bawah.

”Dampaknya serius karena bisa memperlemah daya beli masyarakat.” Pertaruhan opsi ini, menurut dia, juga sangat besar bagi target pertumbuhan ekonomi 6,4%, karena selama ini pertumbuhan ditopang oleh konsumsi masyarakat. Jika daya beli masyarakat turun, tidak hanya memperlemah konsumsi, tetapi juga menekan sumber pertumbuhan lainnya seperti investasi.

Opsi ini pun dinilai tidak tepat waktu karena dilakukan pada saat yang bersamaan dengan rencana membatasi konsumsi BBM. Jika dipaksakan, dampak ekonominya diperkirakan mirip dengan akibat kenaikan BBM pada Oktober 2005. ”Masyarakat harus tahu masalah ini akan menambah tagihan listrik, mudahmudahan DPR menolaknya,” cetus Ikhsan.

Muhammad Ma’ruf, Ferial Thalib

 

Harian Seputar Indonesia, 22 Pebruari 2008 

 
< Prev   Next >