Google Translator

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday290
mod_vvisit_counterYesterday890
mod_vvisit_counterThis week6417
mod_vvisit_counterThis month26260
mod_vvisit_counterAll1497208

DigitalClock

S-891/PJ.341/2004 PENEGASAN TENTANG PEMOTONGAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 26 ATAS PEMBAYARAN GUARANTEE PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 01 September 2004
PENEGASAN TENTANG PEMOTONGAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 26 ATAS PEMBAYARAN GUARANTEE FEE KE KOREA SELATAN


Sehubungan dengan surat Saudara Nomor XXX tanggal 09 Januari 2004, perihal seperti di atas, bersama
ini disampaikan hal-hal sebagai berikut:

1. Dalam surat tersebut beserta lampirannya, diketahui bahwa:

a. PT ABC mengadakan kontrak pinjaman luar negeri dengan bank di Korea Selatan (Republik
Korea). Pinjaman tersebut dijamin oleh induk perusahaannya di Korea Selatan, yaitu XYZ;

b. Dalam Exhibit B Perjanjian Pinjaman (Loan Agreement) tersebut antara lain dinyatakan
bahwa XYZ menjamin pembayaran/pelunasan utang tersebut;

c. Dalam Perjanjian Pembayaran Komisi Penjamin (Guarantee Fee Payment Agreement)
antara XYZ dan PT ABC, antara lain ditentukan formula penghitungan jumlah guarantee
fee yang harus dibayar PT ABC kepada XYZ sebagai berikut:

Jumlah total sisa utang yang dijamin pada akhir Masa garansi
bulan dalam periode garansi (bulan)
------------------------------------------------------------ X 0.2% X -----------------
Periode garansi (bulan) 12

d. Saudara mengalami kesulitan dalam menerapkan tarif PPh Pasal 26 karena dalam P3B
antara Indonesia dan Korea tidak menyatakan secara jelas tentang pembayaran atas
guarantee fee tersebut. Atas hal tersebut, Saudara mohon penjelasan.

2. Berdasarkan ketentuan Pasal 26 ayat (1) Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak
Penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2000,
antara lain diatur bahwa atas penghasilan dengan nama dan dalam bentuk apapun, yang
dibayarkan atau yang terhutang oleh badan pemerintah, Subyek Pajak dalam negeri,
penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap, atau perwakilan perusahaan luar negeri lainnya
kepada Wajib Pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap di Indonesia, dipotong pajak sebesar 20%
(dua puluh persen) dari jumlah bruto oleh pihak yang wajib membayarkan:

1) Dividen;

2) Bunga, termasuk premium, diskonto, premi swap dan imbalan sehubungan dengan jaminan
pengembalian utang;

3) Royalti, sewa, dan penghasilan dengan penggunaan harta;

4) Imbalan sehubungan dengan penggunaan jasa, pekerjaan, dan kegiatan;

5) Hadiah dan penghargaan;

6) Pensiun dan pembayaran berkala lainnya.

3. Berdasarkan Pasal 11 P3B Indonesia-Korea Selatan antara lain diatur bahwa:

a. Ayat 1, Interest arising in a Contracting State and paid to a resident of the other
Contracting State may be taxed in that other State.

b. Ayat 2, However, such interest may also be taxed in the Contracting State in which it arises
and according to the laws of that State, but if the recipient is the beneficial owner of the
interest the tax so charged shall not exceed 10% of the gross amount of the interest.

c. Ayat 5, The term "interest" as used in this Article means income from debt-claims of every
kind, whether or not secured by mortgage and whether or not carrying a right to participate
in the debtor's profits, and in particular income from government securities and income
from bonds or debentures, including premiums and prizes attaching to such securities,
bonds or debentures as well as income assimilated to income from money lent by the
taxation laws of the State in which the income arises.

4. Dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-03/PJ.101/1996 tanggal 29 Maret 1996
tentang Penerapan P3B antara lain ditegaskan sebagai berikut:

a. WPLN wajib menyerahkan asli Surat Keterangan Domisili (SKD) kepada pihak yang
membayarkan penghasilan dan menyampaikan fotokopi SKD tersebut kepada Kepala
Kantor Pelayanan Pajak tempat pihak yang membayarkan penghasilan terdaftar. SKD
asli tersebut menjadi dasar bagi pihak yang membayarkan penghasilan untuk menerapkan
PPh Pasal 26 sesuai ketentuan yang ditegaskan dalam P3B yang berlaku antara Indonesia
dengan negara tempat kedudukan WPLN tersebut.

b. SKD diterbitkan oleh Competent Authority atau wakilnya yang sah di negara mitra runding.
Namun demikian, SKD yang dibuat oleh pejabat pada Kantor Pelayanan Pajak tempat WPLN
yang bersangkutan terdaftar dapat diterima dan dipersamakan dengan SKD yang dibuat
Competent Authority.

5. Berdasarkan ketentuan-ketentuan tersebut di atas dengan ini ditegaskan hal-hal sebagai berikut:

a. Berdasarkan P3B Indonesia-Korea Selatan, penghasilan yang diterima atau diperoleh
perusahaan induk PT. ABC di Korea Selatan adalah termasuk dalam pengertian bunga
dan harus dikenakan Pajak Penghasilan Pasal 26 sebesar 10%;

b. Untuk dapat menerapkan ketentuan P3B Indonesia-Korea Selatan tersebut, perusahaan
induk PT. ABC di Korea Selatan wajib menyerahkan asli SKD yang diterbitkan dan
ditandatangani oleh pejabat Competent Authority Korea Selatan, kepada Perseroan
yang ditunjuk sebagai pemungut pajak dan menyerahkan fotokopinya kepada Kepala
Kantor Pelayanan Pajak tempat Perseroan terdaftar.

c. Apabila perusahaan induk PT. ABC di Korea Selatan tidak dapat menyerahkan SKD
dimaksud, maka atas penghasilan bunga sebagaimana tersebut pada a, dikenakan
pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 26 di Indonesia dengan tarif 20%.

Demikian penegasan kami untuk diketahui dan diindahkan.

A.n. DIREKTUR JENDERAL,
Pjs. DIREKTUR,
ttd
ROBERT PAKPAHAN


 
< Prev   Next >